Yang penting ” Bagaimana Caranya Membuat Gambar Dapat bercerita “

25 11 2008

565651 

Gambar diatas adalah sebuah foto yang diambil oleh salah seorang rekan saya pada hari Senin 24 November 2008 disalah satu sudut jalan HR Rasuna Said-Jakarta. Bandingkan dengan beberapa foto yang saya ambil pada hari yang sama.

Terlihat perbandingannya ?

Yup, saya terlalu fokus untuk membuat suatu objek terlihat indah dan melupakan satu hal yang terpenting ” bagaimana membuat sebuah gambar dapat bercerita “. Pada kasus foto pertama sangat jelas terlihat seorang bapak dengan gerobak kosongnya berusaha menyebrangi jalan.

Mau lebih detil ?, coba lihat tatapan matanya dan bayangkan apa yang ada dibenak sibapak. Sebuah harapan, keputus asaan, ataukah …

LIhat kembali latar belakang dari foto tersebut, lalu lintas padat dimana dua buah truk tampak seakan tidak perduli. Bayangkan lagi apabila yang menjadi latar belakang adalah jenis sedan mewah sekelas Camry keluaran terbaru atau jenis lainnya, tidakkah akan lebih menyakitkan ?

 Sedangkan pada hari yang sama apa yang saya hasilkan ?. Hanya sebuah gambar-gambar gedung  yang tidak memiliki makna apa-apa kecuali keangkuhan. Meskipun mungkin jika isi gedung-gedung itu dibedah bisa terlihat orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya, mobil2 mewah yang berjejer didalam lahan parkir maupun lainnya tetapi tetap saja tidak terlihat.

Saya akui saat ini saya kalah. Kalah dari seseorang rekan yang mungkin hanya bisa berpikir untukmembidik untuk kemudian mengambil foto secara sembarangan dari sebuah moment.

Dan dengan besar hati saya mengucapkan banyak ” terima kasih “ pada rekan tersebut karena saya mendapatkan satu pelajaran penting lagi yang tidak didapatkan dari semua buku panduan yang saya baca dalam beberapa bulan terakhir, bahwa ” yang terpenting adalah bagaimana membuat gambar dapat bercerita “.

 

salam,





Saya tertular ” virus ” photography

22 11 2008

sewe1Dua foto disamping merupakan foto dari orang-orang yang secara langsung harus bertanggung jawab karena telah berhasil menularkan virus ” jepret-jepret “ foto ke saya.

Ya, selama beberapa waktu terakhir saya mulai aktif menekuni hobby yang tergolong ” sedikit “ mahal ini. Meskipun sebenarnya sejak sasdulu saya sudah tertarik dengan photography tetapi baru sebatas angan-angan belaka. 

Keadaan berubah saat bertemu dengan mereka. Keinginan untuk aktif seolah bangkit dan terus mendesak keluar hingga akhirnya saya putuskan untuk membeli kamera murahan, itupun dengan cara kredit :-P .

Mulailah saya mengikuti aktivitas orang2 gila ini. Mulai dari pulang tengah malam hanya untuk sekedar berdiskusi mengenai masalah teknik hingga bersama-sama hunting kelokasi-lokasi yang terkadang kalo dipikir gak masuk akal.

Seperti foto dibawah ini, merupakan foto menara Saidah yang kami ambil dari lantai empat tempat kerja saya pada Jumat 21 November 2008 pukul 19.00 WIB. Sebelumnya saya belum pernah menginjakkan kaki di lantai tersebut sesaat setelah Adzan Magrib. Selain dikarenakan banyak cerita-cerita gaib yang beredar santer, lantai empat kantor saya hanyalah merupakan dak terbuka tanpa sekat yang menjamin orang akan masuk angin apabila berlama-lama disana.         

semalam-di-dewi-sartika_32

del

Sedangkan foto diatas merupakan foto jalan didepan kantor saya saat senja.

Foto-foto tersebut memang belum terlalu bagus memang ( maklum amatiran .. :lol: ), tetapi untuk seorang pemula seperti saya proses pengambilan gambar tersebut membutuhkan pengorbanan besar. Mulai dari berdiri seperti orang bego dipinggir jalan sambil memegang kamera hingga dengan mondar-mandir, maju-mundur, jongkok-berdiri, nungging-nungging dengan berbagai pose hanya untuk sekedar mencari sudut yang baik. Pokoknya parah dan bikin malu deh …. :evil:

Dan jika dipikir-pikir benar pendapat orang-orang selama ini bahwa ” antara orang yang diambil fotonya dengan orang yang mengambil foto lebih banyak gayanya orang yang mengambil foto “. Hahahaha ….

 

Salam,





Koq masih ada yang seperti ini

15 11 2008

picture1Meskipun sudah banyak terjadi contoh kecelakaan akibat penggunaan jas hujan model ponco seperti yang terlihat digambar tetapi tetap masih banyak warga yang memanfaatkannya.

Tidakkah pernah terpikir bahwa ujung jas tersebut dapat menyangkut dijari-jari belakang motor dan menyebabkan pengendara terjatuh, tidak pernahkah terpikir bahwa ujung jas tersebut dapat menyangkut disela-sela sepatu saat kendaraan melaju ..

Dibanyak komunitas roda dua penggunaan jas hujan model ini sangat tidak disarankan bahkan tidak diperbolehkan. Namun sayang sosialisasi tersebut masih dalam taraf internal antar anggota & belum menjamah ke masyarakat pada umumnya.

Tulisan ini dibuat hanya sekedar ingin menggugah perasaan agar dalam berkendara kita dapat lebih memperhatikan aspek keselamatan.

 

salam,





Kenapa saya harus bayar pajak ?

12 11 2008

Judul tersebut terus menari2 dikepala saya setelah tadi sore mendengar pemberitahuan via email dari HRD bahwa dalam minggu ini dikantor saya akan ada sosialisasi pajak pendapatan alias NPWP, alias gaji saya akan dipotong lagi dengan paksa sebesar sekian persen untuk hal tersebut.

Kenapa saya harus bayar pajak. Apa untungnya ? ..

Mohon tidak dijawab dengan alasan yang teoritis seperti untuk pembangunan dan bla..bla..bla… yah. Karena selama ini saya masih melewati jalan yang selalu berlubang setiap hujan, karena selama ini saya masih mengalami kemacetan yang makin hari makin parah, karena selama ini saya masih mendapati banyaknya orang miskin yang dibodohi oleh ” BLT “, karena selama janji sekolah gratis tak kunjung terwujud.., karena selama ini .., karena selama ini…, karena selama ini …………………………….. Preeeettt !!!!!!

Lantas … ??????????!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Sedikit saya bandingkan dengan zakat yang meskipun tidak secara rutin tetapi saya selalu berusaha menyisihkan sebagian pendapatan untuk membayarnya *tidak bermaksud sombong*. Dengan zakat yang hanya sebesar 2,5% saya dijanjikan pahala berpuluh kali lipat yang meskipun tidak terlihat tetapi bisa saya jadikan sebagai tabungan di ” Hari nanti “. Tanpa bermaksud membandingkan tetapi bagi saya adalah hal yang wajar jika saya mengharap timbal balik dari apa yang akan saya berikan. Bukannya pamrih tapi ….., wajar gak sih ….

Sejujurnya, saya lebih senang jika pendapatan saya bisa dipotong untuk zakat, infaq maupun sedekah daripada membayar pajak yang punya slogan  “APA KATA DUNIA ” itu…. huuuhhhh ..

 

*Mohon tidak ditanggapi dengan rasa sok tahu & perasaan yang merasa paling benar*

 

 

salam,





Proses VS Hasil

7 11 2008

Beberapa hari lalu saya sempat menjalani interview awal disebuah perusahaan diJakarta. Sang interviewer sempat mengajukan pertanyaan yang sebenarnya merupakan suatu pertanyaan yang paling saya benci dari dulu, ” Hasil apa yang anda janjikan apabila anda diterima ? “ 

Entah kenapa saya sangat alergi dengan pertanyaan2 seperti itu. Bagi saya, hasil adalah nilai akhir yang sebenarnya bukan merupakan urusan saya dan tidak dapat dijanjikan. Proseslah yang sebenarnya perlu dipikir & dijanjikan. Hasil merupakan sebuah takdir, dan proses adalah jalan untuk mencapainya.

Takdir bisa diubah dengan doa dan usaha. Doa dan usaha itulah yang merupakan sebuah proses. 

Gampangnya, jika proses yang dilakukan 90% sudah benar maka hasil yang akan diperoleh pun 90% akan baik, begitu juga sebaliknya. Meskipun sering kali ada orang2 yang tidak dengan benar menjalankan sebuah proses tetapi bisa mendapatkan hasil yang baik. Itulah yang dapat dikatakan dengan orang yang ” Beruntung “. Tetapi, yang paling menyebalkan adalah jika proses yang dijalankan sudah benar tetapi hasil yang diperoleh tetap jeblok & gagal itu pantas dibilang “ SIALLL !!!! ” :mrgreen:

 

Salam,