Saud yang sehari-hari bekerja sebagai pengajar menemukan sebuah amplop coklat berisi surat2 penting atas nama PT. Mico Graha Pavindo disertai cek selinilai Rp.4,7milyar tergeletak dijalan Otista Raya, berninisiatif untuk mengembalikannya melalui nomor selular yang tertera didalamnya…
” Ternyata setelah saya menelepon, saya seperti dihipnotis. Saya melakukan semua yang diperintahkan orang itu melalui telepon. Dia menyuruh saya mentransfer uang sebesar Rp.3juta kerekeningnya …… ” ugkap Saud -Harian Kompas, Sabtu 7 Februari 2009, hal 26.
******************************************************************************************************
Merinding membaca berita tersebut. Bagaimana seorang yang memiliki niat baik untuk menolong ternyata malah dijadikan korban penipuan. Ini bukan satu-satunya kisah. Masih banyak cerita pahit lain yang sering terlewat begitu saja oleh kita.
Pelaku kejahatan yang makin kreatif menuntut kita untuk dapat lebih waspada. Saat ini sikap untuk tidak mudah percaya pada sesuatu mungkin adalah yang terbaik demi alasan keamanan diri sendiri. Namun jika demikian, maka akan lebih banyak masyarakat yang bersikap masa bodoh dan tidak perduli.
Pertanyaannya ialah untuk apa kita hidup bermasyarakat apabila kita tidak lagi memiliki sikap tolong menolong. Tetapi, jika kita mau menolong adakah jaminan bahwa orang yang kita tolong itu bukanlah seorang penipu dan penjahat ?
Silahkan simpulkan sendiri ..



kenapa ada orang yang ngasih pertanyaan tapi dia ga ngasih tau jawaban benernya?
*klepus*
Lha pan gw juga gak tau harus jawab apa. Bijimane sih loe Dam :-p