Ketika kemusyrikan kembali kekemusyrikan

10 12 2008

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca sebuah buku kumpulan cerpen  tua yang jika tidak salah ditulis oleh Amir Hamzah tentang kisah seorang mubaligh muda yang berkeinginan menghapus kemusyrikan disebuah desa terpencil.

Sebagai langkah awal Sang mubaligh menetapkan niat guna membongkar sebuah makam keramat yang sangat dihormati warga dan sering digunakan sebagai tempat persembahan. Meski mendapat tentangan dan ancaman yang sangat besar, sang mubaligh muda tetap melaksanakan niatnya guna membuktikan bahwa makam tersebut hanyalah sebuah makam biasa dan tidak memiliki kisah keramat apapun hingga tidak pantas ditakuti.

Tuhan memberkati niat Sang mubaligh muda. Dengan kekuatan dua tangan ia berhasil membongkar makam tersebut dan dan menjadikan cerita tentang kutukan-kutukan tersebut sebagai kebohongan belaka.

Langkah selanjutnya Sang mubaligh memutuskan untuk membenahi bangunan Mushola desa dari bentuknya kumuh menjadi lebih baik. Ditanaminya halaman mushola dengan puluhan batang cemara yang memperindah bentuk bangunan.

 Pada awalnya masyarakat tidak menyetujui langkah ini karena sebagian besar dari mereka masih memiliki pandangan kuno bahwa cemara merupakan pohon khusus Agama Nasrani, tetapi dengan kesabaran dan pengetahuan yang luas Sang mubaligh dapat merubah cara pandang warga menjadi lebih terbuka.

Warga yang pada awalnya merasa antipati akhirnya dapat menerima kehadiran Sang mubaligh bahkan sebagai penghormatan para tetua mengangkat beliau sebagai penasihat sekaligus guru agama dan spiritual didesa itu. 

Disinilah awal bencana terjadi. Seorang warga yang sekarat mendatangi Sang mubaligh muda guna meminta petunjuk dan doa. 

Dengan seijin Allah kekhusyukan doa serta keihklasan sang mubaligh penyakit warga tersebut dapat disembuhkan. Kabar ini cepat meluas bahkan hingga kedesa-desa tetangga. Satu demi satu orang2 ramai mendatangi kediaman sang mubaligh untuk meminta segala macam doa dan permohonan. 

Iblis mengambil kesempatan. Diam-diam ia masuk dan bersemayam dihati guna memonopoli pikiran sang mubaligh, membujuknya untuk menjadi seorang mahluk “suci” pilihan Tuhan. Menjadikannya sombong dan angkuh.

Saat Tuhan memanggilnya kembali ratusan pelayat ikut mengiringi jasadnya ketempat peristirahatan terakhir.

Sebulan berlalu sejak kematiannya, nisan penanda makam Sang mubaligh dibungkus kafan putih sebagai penanda bahwa ” disini adalah tempat peristirahatan terakhir orang sakti pilihan “. Makamnya dijadikan simbol keramat baru yang selalu dikelilingi bau menyan dan selalu didatangi puluhan peziarah  guna mengharapkan berkah.  

Cerita lama kembali berulang. Masyarakat yang dulu dihinggapi kemusyrikan kembali kekemusyrikan lagi. Dan iblis memenangi pertarungan pada saat-saat akhir.  

 

salam,


Actions

Information

2 responses

10 12 2008
adams

memang susah memberantas kemusrikan…
btw nice post ndra… membuat manusia-manusia yang membaca tulisan ini berpikir🙂

19 12 2008
indra1082

Musrik…Naudzubillah min dzalik…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: